Connect with us

EDUCATION

Riset Ungkap Hobi Membaca Turun Drastis, Tersaingi Media Digital

Published

on

Alarm Literasi: Hobi Membaca Anjlok 40% dalam 20 Tahun, Tersaingi Media Digital

Sebuah data meresahkan datang dari dunia literasi global, menjadi sebuah “alarm” keras bagi para pendidik, orang tua, dan semuanya. Sebuah riset jangka panjang yang komprehensif menunjukkan bahwa aktivitas membaca untuk kesenangan atau hobi membaca telah anjlok secara drastis. Bahkan turun hampir 40% dalam dua dekade terakhir. Di era ini, minat untuk menyerapnya melalui medium yang paling fundamental—yaitu buku—justru semakin terkikis.

Laporan ini didasarkan pada American Time Use Survey oleh Biro Statistik Tenaga Kerja. Ini melukiskan sebuah potret generasi yang semakin menjauh dari buku. Mereka tidak lagi membaca untuk memperluas wawasan atau sekadar menikmati cerita, melainkan memilih hiburan instan yang ditawarkan oleh media digital. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Amerika; ini adalah sebuah cerminan dari pergeseran budaya global yang dampaknya bisa jauh lebih serius dari yang kita bayangkan.

Data Berbicara: Potret Generasi yang Semakin Tidak Punya Hobi Membaca

Survei ini melacak bagaimana orang-orang menghabiskan waktu mereka setiap hari, dan hasilnya sangat jelas.

  • Pada tahun 2004, rata-rata orang menghabiskan sekitar 23 menit per hari untuk membaca sebagai hobi.
  • Pada data terbaru hingga awal 2025, angka tersebut anjlok menjadi hanya 14 menit per hari.

Penurunan ini bahkan lebih parah di kalangan remaja dan dewasa muda, kelompok usia yang seharusnya berada di puncak rasa ingin tahu mereka. Waktu yang tadinya dialokasikan untuk membaca kini telah “dicuri” oleh aktivitas lain. Dan sang “pencuri” utamanya sudah bisa kita tebak: media digital. Waktu luang kita kini diisi oleh scrolling tanpa akhir di TikTok dan Instagram, binge-watching serial di Netflix, dan bermain game online.

Penyebab Utama: Pertarungan Melawan ‘Ekonomi Perhatian’

Mengapa hobi membaca bisa kalah telak? Jawabannya terletak pada konsep “ekonomi perhatian” (attention economy). Di dunia digital, perhatian kita adalah komoditas yang paling berharga. Semua platform media sosial dan hiburan dirancang secara sengaja oleh ribuan insinyur brilian untuk bisa merebut dan menahan perhatian kita selama mungkin.

  • Gratifikasi Instan: Video pendek di TikTok memberikan ledakan dopamin instan dalam 15 detik. Sebuah novel, sebaliknya, membutuhkan investasi waktu dan fokus selama berjam-jam untuk bisa memberikan kepuasan. Otak kita secara alami akan lebih memilih jalan yang lebih mudah dan lebih cepat.
  • Sifat Pasif vs. Aktif: Menonton video atau scrolling media sosial adalah aktivitas yang cenderung pasif. Kita hanya perlu menerima informasi. Membaca, sebaliknya, adalah aktivitas yang sangat aktif. Otak kita harus bekerja keras untuk memproses kata, membangun imajinasi, dan mengikuti alur cerita. Di tengah kelelahan hidup modern, banyak orang yang lebih memilih hiburan pasif.

Dampak yang Tak Terlihat: Saat Kemampuan Berpikir Kritis Melemah

Penurunan hobi membaca ini bukan hanya soal hilangnya satu jenis hiburan. Dampaknya jauh lebih fundamental dan mengkhawatirkan bagi perkembangan individu dan masyarakat.

1. Menurunnya Kemampuan Fokus dan Berpikir Mendalam (Deep Thinking) Kebiasaan mengonsumsi konten-konten pendek dan cepat membuat otak kita terlatih untuk terus “melompat” dari satu informasi ke informasi lainnya. Akibatnya, kemampuan kita untuk fokus pada satu hal dalam waktu yang lama—seperti membaca buku yang tebal atau memahami argumen yang kompleks—menjadi tumpul.

2. Melemahnya Keterampilan Berpikir Kritis dan Empati Membaca, terutama fiksi, adalah “gym” bagi empati. Saat membaca novel, kita masuk ke dalam pikiran dan perasaan karakter yang berbeda dari kita, melatih kemampuan kita untuk memahami sudut pandang orang lain. Selain itu, membaca teks yang panjang dan kompleks melatih otak untuk berpikir kritis, menganalisis argumen, dan membedakan antara fakta dan opini—sebuah skill yang sangat krusial di era hoaks.

3. Menyusutnya Kosakata dan Kemampuan Berkomunikasi Buku adalah sumber terkaya untuk mempelajari kosakata baru dan struktur kalimat yang kompleks. Semakin sedikit kita membaca, semakin terbatas pula kemampuan kita untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan kita secara lisan maupun tulisan dengan kaya dan presisi.

Di sisi lain, membaca juga merupakan salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan otak. Sama seperti kita memilih makanan sehat seperti manfaat buah matoa untuk kesehatan fisik, membaca adalah “nutrisi” terbaik untuk kesehatan kognitif.

Untuk mendapatkan data dan riset lebih lanjut mengenai tren literasi dan dampaknya, organisasi seperti National Endowment for the Arts (NEA) di AS seringkali mempublikasikan laporan-laporan komprehensif yang bisa menjadi rujukan.

Misi Penyelamatan Imajinasi

Pada akhirnya, data mengenai anjloknya hobi membaca ini adalah sebuah panggilan untuk bertindak. Ini adalah sebuah pertarungan untuk menyelamatkan bukan hanya buku, tetapi juga kemampuan kita untuk berpikir mendalam, berempati, dan berimajinasi. Ini bukanlah perang melawan teknologi, melainkan tentang bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan teknologi secara lebih bijaksana. Bagi para orang tua, ini adalah tugas untuk kembali menjadikan buku sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masa kecil anak-anak mereka. Bagi kita semua, ini adalah tantangan untuk secara sadar menyisihkan waktu setiap hari, meskipun hanya 15-20 menit, untuk mematikan notifikasi, membuka sebuah buku, dan membiarkan diri kita tersesat di dalam dunia kata-kata. Karena di tengah riuhnya dunia digital, keheningan dan kedalaman yang ditawarkan oleh selembar halaman buku menjadi semakin langka dan semakin berharga.