Connect with us

Health

Makan Kuning Telur Bikin Kolesterol? Ini Fakta Ilmiahnya

Published

on

Mitos atau Fakta: Benarkah Makan Kuning Telur Bikin Kolesterol Tinggi?

Selama beberapa dekade, kuning telur seolah menjadi “musuh publik nomor satu” di dunia kesehatan. Kita seringkali mendengar nasihat untuk membatasi atau bahkan menghindarinya sama sekali. Para binaragawan membuang kuningnya dan hanya memakan putihnya, sementara para penderita kolesterol tinggi memandangnya dengan penuh kecurigaan. Stigma ini begitu kuat melekat: makan kuning telur sama dengan menaikkan kadar kolesterol dalam darah.

Namun, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan gizi, pandangan usang ini ternyata mulai terbantahkan. Berbagai penelitian modern yang lebih komprehensif menunjukkan bahwa hubungan antara kolesterol yang kita makan dengan kolesterol di dalam darah kita tidak sesederhana yang kita kira. Ternyata, “dosa” yang selama ini dilimpahkan pada si kuning telur yang lezat itu sebagian besar adalah sebuah mitos. Lantas, bagaimana penjelasan ilmiah yang sebenarnya?

Membedah ‘Harta Karun’ di dalam Kuning Telur

Sebelum kita menghakiminya, mari kita lihat dulu apa saja “harta karun” nutrisi yang terkandung di dalam kuning telur. Justru di bagian inilah sebagian besar nutrisi telur tersimpan. Berbeda dengan putih telur yang hampir seluruhnya adalah protein, kuning telur mengandung:

  • Vitamin A, D, E, dan K: Vitamin-vitamin larut lemak yang sangat penting untuk fungsi penglihatan, kesehatan tulang, imunitas, dan pembekuan darah.
  • Vitamin B Kompleks: Termasuk B12 dan folat, yang krusial untuk fungsi otak dan metabolisme energi.
  • Kolin (Choline): Nutrisi vital yang sangat penting untuk perkembangan otak, fungsi memori, dan kesehatan hati. Kuning telur adalah salah satu sumber kolin terbaik.
  • Lutein dan Zeaxanthin: Dua antioksidan kuat yang sangat baik untuk kesehatan mata, membantu melindungi dari degenerasi makula dan katarak.
  • Lemak Sehat: Mengandung lemak tak jenuh tunggal dan ganda yang baik untuk tubuh.

Kesalahpahaman Mendasar: Kolesterol Makanan vs. Kolesterol Darah

Inilah inti dari semua kesalahpahaman. Kita harus membedakan antara kolesterol makanan (dietary cholesterol)—yaitu kolesterol yang kita makan dari makanan seperti kuning telur, udang, atau jeroan—dengan kolesterol darah (blood cholesterol)—yaitu kolesterol yang diproduksi oleh tubuh kita sendiri (terutama di hati) dan beredar di dalam darah.

Selama bertahun-tahun, orang mengira bahwa semakin banyak kolesterol yang kita makan, maka akan semakin tinggi pula kadar kolesterol di dalam darah kita. Ternyata, tubuh kita tidak bekerja sesederhana itu. Tubuh kita memiliki sistem regulasi yang sangat cerdas. Hati (liver) adalah produsen utama kolesterol di dalam tubuh.

  • Ketika Anda banyak mengonsumsi kolesterol dari makanan, hati Anda akan mengurangi produksinya untuk menyeimbangkan keadaan.
  • Sebaliknya, ketika Anda sedikit mengonsumsi kolesterol dari makanan, hati Anda akan meningkatkan produksinya, karena kolesterol tetap dibutuhkan untuk fungsi-fungsi vital seperti membangun sel dan memproduksi hormon.

Bagi sekitar 70% populasi, makan kuning telur atau makanan berkolesterol tinggi lainnya memiliki dampak yang sangat kecil terhadap kadar kolesterol darah mereka.

Lalu, Apa ‘Biang Kerok’ Kolesterol Tinggi yang Sebenarnya?

Jika bukan kolesterol dari makanan, lalu apa yang menjadi penyebab utama naiknya kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam darah? Penelitian modern kini menunjuk dua tersangka utama:

  1. Lemak Jenuh (Saturated Fat): Ditemukan dalam daging berlemak, mentega, minyak kelapa, dan makanan olahan.
  2. Lemak Trans (Trans Fat): Ditemukan dalam margarin, kue-kue kering industri, dan makanan yang digoreng rendam (deep-fried).

Kedua jenis lemak inilah yang terbukti secara signifikan memengaruhi cara hati memproduksi dan mengelola kolesterol, yang berujung pada peningkatan kadar LDL di dalam darah. Satu butir telur besar hanya mengandung sekitar 1,5 gram lemak jenuh. Bandingkan dengan satu porsi kentang goreng atau sepotong kue.

Pentingnya memahami sumber nutrisi dan dampaknya bagi tubuh adalah kunci kesehatan. Di dunia diabetes, misalnya, banyak yang takut minum minuman manis. Namun, jika dipahami dengan benar, minuman alami seperti air kelapa justru bisa dinikmati. Pengetahuan yang benar, seperti pada artikel tentang bolehkah penderita diabetes minum air kelapa, menghindarkan kita dari kesalahpahaman yang tidak perlu.

Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan berbasis bukti ilmiah mengenai hubungan antara diet, kolesterol, dan kesehatan jantung, sumber-sumber terpercaya seperti American Heart Association menyediakan panduan yang sangat komprehensif.

Siapa yang Masih Perlu Berhati-hati?

Meskipun makan kuning telur aman bagi kebanyakan orang, ada sebagian kecil populasi (sekitar 30%) yang disebut sebagai hyper-responders. Mereka memiliki kecenderungan genetik di mana tubuh mereka merespons kolesterol makanan dengan peningkatan kadar kolesterol darah yang lebih signifikan. Orang-orang dengan kondisi genetik tertentu seperti hiperkolesterolemia familial atau mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung dan diabetes disarankan untuk tetap berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi mengenai batasan asupan telur mereka.

Selamat Datang Kembali, Kuning Telur!

Pada akhirnya, ilmu pengetahuan telah membebaskan kuning telur dari tuduhan yang selama ini membelenggunya. Bagi masyarakat umum yang sehat, makan kuning telur satu butir setiap hari adalah bagian dari pola makan yang sangat sehat dan bergizi. Manfaat nutrisi yang terkandung di dalamnya—mulai dari vitamin, mineral, hingga kolin untuk otak—jauh lebih besar daripada kekhawatiran akan kolesterolnya. Jadi, buanglah mitos lama tersebut. Daripada khawatir dengan sebutir telur di pagi hari, lebih baik kita fokus untuk mengurangi konsumsi makanan olahan, gula berlebih, dan lemak trans yang jelas-jelas menjadi musuh kesehatan kita. Selamat menikmati kembali kelezatan dan manfaat dari telur utuh!