OLAHRAGA
Adrien Rabiot Dijual Marseille Usai Berkelahi dengan Guendouzi
Lagi! Adrien Rabiot Berulah, Langsung Dijual Marseille Usai Berkelahi dengan Rekan Setim
Temperamen panas dan kontroversi seolah menjadi bayangan yang tak pernah bisa lepas dari karier Adrien Rabiot. Baru saja memulai babak baru dalam kariernya bersama Olympique Marseille, gelandang internasional Prancis ini kembali menjadi berita utama karena kesalahannya. Ia dilaporkan terlibat dalam perkelahian sengit dengan rekan setimnya sendiri, Mattéo Guendouzi, di pusat latihan klub.
Reaksi dari pihak klub dan pelatih Marcelino pun datang dengan sangat cepat dan tanpa kompromi. Kurang dari 24 jam setelah insiden tersebut, Marseille secara resmi menempatkan Rabiot di daftar jual. Keputusan tegas ini menjadi sebuah sinyal kuat bahwa kesabaran klub sudah habis dan masa depan sang gelandang di Stade Vélodrome kini berada di ujung tanduk. Ini adalah episode terbaru dari saga panjang seorang talenta luar biasa yang seringkali kariernya terhambat oleh karakternya sendiri.
Adrien Rabiot: Talenta Elite, Temperamen Problematik
Untuk memahami mengapa insiden seperti ini seolah terus berulang, kita perlu melihat profil dan sepak terjang Adrien Rabiot. Lahir di Saint-Maurice, Prancis, pada 3 April 1995, Rabiot adalah produk asli dari akademi Paris Saint-Germain (PSG) yang sangat prestisius. Sejak usia dini, bakatnya sudah tidak terbantahkan. Ia adalah seorang gelandang box-to-box yang komplet: memiliki postur ideal, teknik olah bola yang elegan, visi umpan yang bagus, dan kemampuan lari yang kuat.
- Sepak Terjang: Ia menembus tim utama PSG dan menjadi bagian penting dari skuad yang mendominasi Prancis, memenangkan banyak gelar Ligue 1. Namun, kariernya di Paris juga diwarnai dengan serangkaian masalah disiplin dan konflik dengan manajemen, terutama terkait negosiasi kontrak yang melibatkan ibunya yang juga merupakan agennya.
Hubungan yang memburuk membuatnya pindah ke Juventus pada 2019 dengan status bebas transfer. Di Italia, ia berhasil mematangkan permainannya dan menjadi salah satu gelandang terbaik di Serie A, memenangkan Scudetto dan Coppa Italia. Penampilan konsistennya juga menjadikannya pilar tak tergantikan di lini tengah timnas Prancis, termasuk saat mencapai final Piala Dunia 2022. Pada musim panas 2025, ia memutuskan untuk kembali ke Prancis dan bergabung dengan Marseille untuk mencari tantangan baru.
Kronologi Perkelahian di Pusat Latihan La Commanderie
Insiden yang menjadi puncak masalah ini terjadi pada sesi latihan hari Selasa (19/8). Menurut laporan dari media-media Prancis, perkelahian ini dipicu oleh sebuah tekel keras dari Mattéo Guendouzi kepada Rabiot dalam sebuah sesi latihan tanding internal. Rabiot, yang tidak terima dengan tekel tersebut, langsung bangkit dan mendorong Guendouzi.
Adu mulut yang panas pun tak terhindarkan. Situasi dengan cepat memburuk menjadi adu fisik, di mana keduanya dilaporkan saling melayangkan pukulan sebelum akhirnya dipisahkan oleh para pemain lain dan staf pelatih. Pelatih kepala, Marcelino, yang menyaksikan langsung insiden tersebut, dilaporkan sangat murka. Ia langsung menghentikan sesi latihan dan menyuruh kedua pemain untuk masuk ke ruang ganti.
Keputusan Cepat dan Tegas dari Klub
Manajemen Olympique Marseille, yang dikenal tidak suka dengan drama di ruang ganti, bergerak dengan sangat cepat. Setelah melakukan pertemuan darurat dengan pelatih Marcelino pada malam harinya, mereka mengambil keputusan tegas: Adrien Rabiot akan segera dijual.
Klub merasa bahwa tindakan Rabiot, sebagai seorang pemain senior dan salah satu yang bergaji tertinggi, telah menciptakan preseden buruk dan merusak harmoni tim. Meskipun Guendouzi juga bersalah, status Rabiot sebagai “biang keladi” dari berbagai masalah di klub-klub sebelumnya tampaknya menjadi faktor pemberat. Klub memutuskan bahwa mereka tidak bisa mengambil risiko untuk mempertahankan pemain dengan temperamen yang berpotensi meledak kapan saja.
Pentingnya menjaga harmoni dan kepemimpinan di ruang ganti adalah hal yang krusial. Di klub lain, seperti Liverpool, penunjukan seorang pemimpin adalah proses yang sangat hati-hati, seperti saat Arne Slot memilih wakil kapten barunya secara rahasia untuk memastikan keputusan tersebut tepat bagi tim. Insiden di Marseille ini menunjukkan apa yang terjadi jika kepemimpinan gagal dijaga.
Kabar mengenai perkelahian dan keputusan penjualan ini diliput secara masif oleh media olahraga Prancis. Surat kabar terkemuka L’Équipe (https://www.lequipe.fr/Football/Actualites) menjadi salah satu yang pertama melaporkan insiden ini secara detail, mengutip sumber internal dari dalam klub.
Bakat Hebat yang Dikhianati oleh Temperamen
Pada akhirnya, kisah terbaru dari Adrien Rabiot ini adalah sebuah tragedi yang berulang. Ini adalah cerita tentang seorang pesepakbola dengan talenta kelas dunia yang kariernya terus-menerus disabotase oleh musuh terbesarnya: dirinya sendiri. Kemampuannya di atas lapangan tidak pernah diragukan, tetapi ketidakmampuannya untuk mengelola emosi dan egonya sekali lagi telah menutup pintu baginya di sebuah klub besar. Kini, di bursa transfer yang waktunya semakin sempit, ia harus kembali mencari klub baru yang masih mau berjudi pada talentanya yang besar, sambil berharap drama yang sama tidak akan terulang lagi.